Search This Blog

JKN-Drive, Inovasi baru Klaim JKN

Media penyimpanan terpadu untuk proses klaim pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tanpa harus manual mengantarkan berkas klaim.

E-Klaim 5.9 Full Installer

Installer Aplikasi E-Klaim Versi 5.9.

Fitur pada aplikasi Bridging SIMRS-INACBG

Fitur-fitur aplikasi briding SIMRS-INACBG, sangat bermanfaat untuk rumah sakit yang sudah memiliki SIMRS. Efisiensi waktu bisa sampai 60%. Simak bisa apa saja aplikasi Bridging disini.

Friday, January 1, 2016

Download : Aplikasi RS SEP 3.3

Aplikasi RSSEP versi 3.3 merupakan update untuk aplikasi RSSEP 3.2. Ada banyak perubahan disini. Aplikasi versi 3.3 dirancang untuk bersandingan dengan Bridging INASIS. Silahkan download disini.

Bagaimana : Mengatasi Error SQL Table Casemix_Inacbg.alt_diagnosis doesn't exist

Akhir-akhir ini makin banyak yang mengalami masalah saat grouping khususnya berkenaan dengan error SQL seperti pada judul diatas. Hampir dapat dipastikan yang mendapatkan error tersebut adalah mereka yang memiliki server baru, atau baru melakukan instalasi INACBG, baik pada komputer lama atau pada komputer baru. Jika error ini muncul, tentu RS tidak akan mendapatkan tarif CBG sesuai dengan kasus yang akna di klaimkan. Apa sebenarnya masalahnya sehingga muncul error tersebut.

Pesan error ini muncul karena adanya perubahan pada basisdata grouper versi 3.2 yang digunakan oleh INACBG versi 4.1. Gerouper sendiri sebenarnya merupakan aplikasi terpisah dari INACBG. Aplikasi ini mengalami perbaikan-perbaikan dari masa ke masa dan memiliki batas waktu pakai. Biasanya grouper memiliki masa pakai satu tahun atau enam bulan untuk versi terakhir saat ini grouper berlaku selama 6 bulan mulai sejak 1 Juli 2015 hingga 30 Juni 2016.

Dalam setiap perpanjangan masa pakai grouper biasanya dilakukan perbaikan-perbaikan atua perubahan, baik pada aplikasi atau basisdata yang digunakan. Perubahan basisdata terakhir terjadi pada saat perpanjangan lisensi grouper pada 1 Januari 2015. Perpanjangan aplikasi grouper pada 1 Januari 2015 berlaku untuk masa 6 bulan atau sampai 30 Juni 2015. Kemudian pada 1 Juli 2015 NCC mengeluarkan perpanjangan lisensi grouper yang berlaku sampai 30 Juni 2016. Perpanjangan lisensi yang dilakukan pada tanggal 1 Juli 2015 hanya memberikan tambahan masa pakai selama satu tahun kedepan, tanpa adanya perubahan basisdata. Oleh karena itu bagi Rumah Sakit (RS) yang meng-install aplikasi INACBG versi 4.1 dan memasang perpanjangan lisensi per 1 Juli 2015 akan mengalami masalah error seperti pada pesan seperti pada gambar berikut.


Jika diklik pada tombol OK, maka INACBG tidak akan mendapatkan tarif CBG karena grouper tidak akan berhasil melakukan grouping pelayanan dengan kode group X seperti pada gambar berikut.


Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan update pada basis data grouper. Berikut ini file update basisdata grouper yang telah di kemas ulang agar lebih mudah dalam instalasinya. file update ini didasarkan pada update data yang disertakan dalam perpanjangan grouper 1 Januari 2015. File Update ini berlaku hingga 30 Juni 2016 sesuai dengan masa aktif lisensi gruper kecuali dinyatkaan lain kemudian sesuai dengan perkembangan.

Silahkan download file update disini. Setelah download kemudian jalankan dan ikuti instruksi yang muncul sampai finish. perlu di ingat, sebelum menjalankan, pastikan xampp dalam keadaan off atua STOP.

Download Disini


Semoga bermanfaat.

Saturday, November 7, 2015

Penguatan Tenaga Koder Dalam Implementasi INACBG

Untuk meningkatkan kemampuan koder di Rumah Sakit pelaksana program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan mengadakan Kegiatan penguatan tenaga koder dalam implementasi INACBG.

Acara ini di ikuti oleh rumah sakit tertntu dari hampir seluruh provinsi di Indonesia dimana masing-masing RS mengirimkan satu orang perwakilannya. Sayangnya tidak semua rumah sakit yang menjalankan program JKN di undang. Hal ini dapat dimaklumi mengingat jumlah RS yang saat ini berperan dalam program JKN cukup banyak. Untuk sementara RS yang di undang adalah RS yang mengumpulkan data kosting di tahun 2015.

Acara ini akan dilaksanakan di Bekasi, tepatnya di Hotel Harris Jl. Bulevar Ahmad Yani Sentra Summarecon, Bekasi, Jawa Barat. Kegiatan dilaksanakan selama lima (5) hari mulai hari senin, 16 Nopember 2015 sampai dengan Jum'at 20 Nopember 2015.

Dan yang paling menyenangkan adalah acara ini di selenggarakan secara gratis, alias tidak dipungut biaya.

Secara rinci undangan dapat dan daftar RS yang di undang dapat dilihat disini.

Selamat berkumpul teman-teman seindonesia, jangan lupa bawa oleh-oleh khas daerah masing-masing biar seru saat kopi darat...

Monday, November 2, 2015

Eksklusif: Terkuak, 40% dari Harga Obat Buat Menyuap Dokter

TEMPO.CO, Jakarta -Ketua Komite Nasional Penyusunan Formularium Nasional Iwan Dwiparahasto mengatakan rata-rata perusahaan farmasi menghabiskan duit untuk mempromosikan obatnya sebesar 40 persen dari total biaya produksi.

Alih-alih untuk beriklan, biaya promosi merupakan uang komisi penulisan resep obat. “Itu untuk membiayai dokter jalan-jalan ke luar negeri, bertanding golf, hingga membelikan mobil,” kata Iwan, yang juga guru besar farmakologi dari Universitas Gajah Mada, kepada Tempo, akhir September lalu.

Saat menelusuri penyebab mahalnya harga obat ini, tim investigasi Majalah Tempo memperoleh puluhan kuitansi yang dikeluarkan sebuah produsen obat saat memberikan uang kepada para dokter.

Ada juga puluhan file berformat Microsoft Excel yang berisi 2.125 nama dokter di Jakarta, Bekasi, Tangerang, Surabaya, Jember, dan Makassar yang diduga menerima suap dari perusahaan itu.

Saat ini ada 205 perusahaan farmasi yang memperebutkan Rp 69 triliun ceruk pasar obat pada tahun ini. Angka itu setiap tahun meningkat. Pada 2000, misalnya, nilai bisnis obat hanya Rp 6 triliun.

Mereka bersaing dengan cara “mendekati” dokter. “Jika dokternya punya banyak pasien, berapa pun uang yang diminta dokter akan dipenuhi,” kata seorang mantan petinggi perusahaan farmasi yang kini tak lagi bekerja di dunia farmasi.

Pada salah satu kuitansi, misalnya, tercantum nama seorang dokter spesialis penyakit dalam yang berpraktek di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Perusahaan farmasi itu menghadiahi si dokter dengan perayaan tahun baru 2014 di Jepang. Di nota agen wisata, perjalanan tersebut bernilai US$ 15.690 atau senilai Rp 170 juta dengan kurs pada masa itu.

Ada lagi kuitansi pada Januari 2014 yang menyebutkan bahwa si dokter menerima Rp 200 juta. Kuitansi itu ia stempel dan ditandatangani. Lalu, pada Januari 2015, ia tercatat menerima Rp 500 juta. Sang dokter sempat membantah menerima uang itu, mengaku setelah ditunjukkan kuitansi pada 2014 tersebut. Menurut dia, itu bukanlah uang suap agar ia meresepkan produk perusahaan farmasi. “Itu uang komisi untuk apotek saya,” katanya, Kamis tiga pekan lalu, di kliniknya.

Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zaenal Abidin, mengakui masih ada dokter yang main mata dengan perusahaan. Padahal sanksi bagi dokter yang melakukan hal itu cukup berat, sampai pencabutan izin praktek. “Dalam etika kedokteran, dokter dibolehkan mendapat sponsorship berupa biaya transportasi, penginapan, dan makan untuk pendidikan berkelanjutan seperti seminar atau symposium,” ujarnya.

Sumber : Tempo

Tuesday, October 27, 2015

Memulai Perubahan dari Pinggiran

JAKARTA, KOMPAS - Sulitnya mengakses fasilitas pelayanan kesehatan yang berkualitas dan merata hingga ke beranda Nusantara masih menjadi persoalan bangsa ini. Di banyak lokasi di pelosok negeri ini, negara seperti tidak hadir untuk melayani masyarakat. Jurang ketimpangan pelayanan kesehatan begitu menganga di depan mata.

Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla menetapkan sembilan agenda pembangunan prioritas yang lebih dikenal dengan Nawacita yang salah satunya adalah membangun dari pinggiran. Bukan semata infrastruktur yang dibangun dari pinggiran, tetapi juga kualitas manusianya.

Hal itu diterjemahkan Kementerian Kesehatan melalui program Nusantara Sehat. Program itu diharapkan memenuhi kebutuhan layanan dasar di daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK) agar layanan kesehatan berjalan baik.

Nusantara Sehat adalah program penempatan tenaga kesehatan berbasis tim. Selain dokter, di tim itu ada dokter gigi, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga farmasi, tenaga kesehatan lingkungan, tenaga gizi, dan tenaga teknologi laboratorium medik.

Tim itu bertugas memperkuat layanan kesehatan dasar di puskesmas dengan kegiatan promosi kesehatan, pencegahan penyakit, dan pengobatan. Dari tiga kegiatan itu, fokus tim diarahkan pada upaya bersifat promotif dan preventif.

Tak mudah bagi tim Nusantara Sehat bekerja di DTPK. Sebanyak 143 tenaga kesehatan Nusantara Sehat angkatan I disebar di 20 puskesmas di seluruh Indonesia sejak enam bulan lalu. Tantangan geografis, kemajemukan sosial budaya lokasi penempatan, keberagaman perilaku warga, dan kolaborasi yang butuh waktu dengan tenaga kesehatan di puskesmas merupakan persoalan yang dihadapi tim Nusantara Sehat.

Saat melantik tim Nusantara Sehat, Jumat (1/5), Menteri Kesehatan Nila F Moeloek menyampaikan, tim Nusantara Sehat dinilai berhasil jika mampu menginisiasi perubahan perilaku masyarakat ke arah yang lebih sehat. Waktu dua tahun di lokasi penempatan dinilai cukup untuk mengawali sebuah perubahan.

Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Kemitraan dan Pelayanan Kesehatan Primer Diah Saminarsih mengatakan, Nusantara Sehat dipantau langsung Kantor Staf Presiden. Sebab, program itu adalah satu dari 100 program prioritas Joko Widodo- Jusuf Kalla.

Dari sisi perekrutan dan penempatan, tahun 2015 Kemenkes menargetkan merekrut 960 peserta Nusantara Sehat yang akan ditempatkan di 120 puskesmas perbatasan dan kepulauan. Awal Mei 2015, 143 peserta program itu ditempatkan di 20 puskesmas di Aceh, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua.

Kini perekrutan tahap kedua mencari 820 tenaga kesehatan yang akan ditempatkan di 100 puskesmas masih berlangsung. "Sekitar 12.000 orang mendaftar dan akan diseleksi hingga didapat 820 orang. Pendaftar yang sedikit dokter umum," ucap Diah.

Keberhasilan Nusantara Sehat tak bisa dilihat hanya dari perekrutan dan penempatan. Program itu berhasil jika setelah bertugas dua tahun di lokasi penempatan, tim berhasil mengawali perubahan lebih baik di masyarakat. "Ada perubahan masyarakat atau tidak, ada program baru di puskesmas atau tidak, program puskesmas yang ada diperkuat atau tidak. Itu indikator keberhasilannya," kata Diah.

Meningkatkan layanan

Meski baru beberapa bulan bertugas, keberadaan tim Nusantara Sehat mulai berdampak positif bagi layanan kesehatan di daerah penempatan. Di Puskesmas Balai Karangan, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, misalnya, tim itu turut meningkatkan layanan kesehatan warga.

Menurut Silas Layang, Kepala Puskesmas Balai Karangan, sejak tim Nusantara Sehat hadir, mereka mengerjakan program yang sebelumnya tak dilakukan. Posyandu bagi warga lanjut usia yang dulu hanya dilakukan di dua desa bertambah jadi empat desa setelah tim Nusantara Sehat hadir. "Kunjungan layanan kesehatan ke daerah terpencil semula hanya lima kali sebulan, kini minimal 10 kali sebulan," ujarnya.

Magdalena Simoi (40), warga Balai Karangan, menuturkan, tim Nusantara Sehat memberi masyarakat wawasan baru, khususnya pencegahan penyakit. "Mereka memberi masukan soal pemeliharaan lingkungan dan anak-anak. Itu mereka sampaikan saat kami menemui mereka di puskesmas ataupun saat pergaulan sehari-hari," ujarnya.

Di Puskesmas Silawan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, kehadiran tujuh tenaga kesehatan Nusantara Sehat membantu petugas kesehatan yang ada. Anggota tim itu memberi layanan kesehatan dengan menjangkau masyarakat di dusun.

Menurut pelaksana tugas Kepala Puskesmas Longgar Apara, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, Stefenson Iwamony, tim Nusantara Sehat memperkuat cakupan layanan puskesmas di Desa Longgar, Apara, dan Bemum. Sebelumnya, puskesmas sulit melayani kesehatan warga setempat karena hanya ada tiga perawat.

Hal serupa juga terjadi di Enggano, Bengkulu. Kepala Puskesmas Enggano Salpina menjelaskan, adanya tim Nusantara Sehat mengatasi keterbatasan tenaga kesehatan di daerah terpencil itu. Meski ada 18 tenaga kesehatan di wilayah itu, belum ada dokter yang menetap. Tenaga dokter gigi, farmasi, dan gizi juga belum ada. "Dalam sebulan, dokternya kadang masuk kadang tidak, padahal mayoritas warga ingin berobat ke dokter," ujarnya.

Selama di Enggano, tim Nusantara Sehat membantu program puskesmas. Mereka juga mengaktifkan lagi program yang vakum, seperti program bagi warga lanjut usia dan anak. Ke depan, puskesmas dan tim Nusantara Sehat akan mengaktifkan program desa siaga, termasuk bank darah.

Salpina berharap tim Nusantara Sehat yang mengisi kekosongan tenaga kesehatan di Enggano, yakni dokter, tenaga gizi, dan farmasi, bertahan di Enggano setelah periode penugasan selesai sambil menunggu tenaga kesehatan pengganti. Pemantauan dan dukungan harus diberikan pada tim Nusantara Sehat agar perubahan warga ke arah lebih sehat terwujud. (ADH/ESA/KOR/FRN)


Sumber : Kompas.com

Menkes RI Beri Pembekalan Tim Nusantara Sehat

Menkes menjelaskan bahwa program Nusantara Sehat merupakan program yang dirancang dengan kongkrit untuk menguatkan layanan primer yaitu di tingkat Puskesmas. Nantinya, tim Nusantara Sehat gelombang kedua yang tengah menjalankan pembekalan di Pusdikkes Kodiklat TNI AD akan disebar di pelosok daerah sebagai bentuk pemerataan tenaga medis.

"Gelombang kedua ini diikuti oleh 650 peserta muda di bawah 30 tahun. Mereka akan ditempatkan di 100 puskesmas di daerah perbatasan terpencil, kepulauan dan daerah bermasalah kesehatan," kata Menkes RI, Nila F Moeloek saat ditemui di Pusdikkes Kodiklat TNI AD, Jakarta Timur, Senin (26/10/2015).

Bukan tanpa alasan tingkat pelayanan kesehatan yaitu puskesmas menjadi perioritas. Menurutnya, puskesmas adalah bagian terdepan bagi kegiatan pelayanan kesehatan.

"Hal ini termasuk usaha promotif, preventif, dan kegiatan proaktif untuk menjangkau sasaran di luar masyarakat sesuai rencana pembangunan kesehatan periode 2015 - 2019 dengan Paradigma Sehat," tambahnya.

Lebih lanjut Menkes menambahkan, masalah kesehatan seperti menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian balita (AKB), serta masalah stunting dan keseimbangan gizi masih ada. Tidak hanya itu, persoalan kesehatan lainnya seperti pengendalian penyakit menular seperti HIV / AIDS.

Malaria, TB, penyakit tidak menular, kanker, jantung, dll juga belum sepenuhnya teratasi. Untuk itu, Menkes memerlukan pendekatan melalui keluarga dengan meningkatkan penyebaran dan kualitas tenaga kesehatan.

"Kami juga memberikan materi berupa bela negara, penguatan program, pengembangan diri dan pelayanan medis serta komunikasi. Pembekalan diselenggarakan oleh Pusdiklat Aparatur Kemenkes bekerjasama dengan Pusdikkes kodiklat TNI AD dan Rindam Jaya," ungkapnya.



Sumber : inilah.com

Friday, October 2, 2015

Paket Instalasi INACBG 4.1

Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan langkah-langkah instalasi INACBG 4.1 mulai dari instalasi inacb 4.1 secara berurutan sampai update perpanjangan grouper terakhir (pada saat tulisan ini dibuat) per Juni 2015 dengan cara mencari dan mendownload satu persatu dan menginstallnya. Bagi sebagian RS yang baru bekerjasama dengan BPJS Kesehatan tentu kesulitan untuk menginstall INACBG 4.1 karena versi 4.1 hanya berupa update untuk versi 4.0 yang telah dibagikan pada Desember 2013.

Memperhatikan kesulitan tersebut, kemenkes melalui Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan (BUK) telah merilis paket instalasi INACBG 4.1 dalam satu kemasan lengkap dengan cara instalasinya. meski demikian proses instalasi masih tetap harus dilakukan satu persatu dalam 6 langkah sebagaimana pada tulisan sebelumnya. Hanya saja tidak perlu lagi kesulitan mencari installer satu persatu.

Berikut adalah link download paket Instalasi INACBG 4.1

Paket Instalasi INACBG 4.1